Breaking News

Situasi di Bawah Pandemi COVID-19, Flu Spanyol Mirip: Sejarawan

http://159.203.96.167/

Kondisi di bawah pandemi COVID-19 yang melanda negara-negara di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memiliki kesamaan dengan yang selama flu Spanyol tahun 1918, Tri Wahyuning M Irsyam, seorang sejarawan dari Universitas Indonesia, menyatakan. Agen Poker

Berbicara tentang flu Spanyol tahun 1918 di sebuah acara bincang-bincang yang disiarkan online dari Jakarta pada hari Sabtu, ia berkata: “(Pada saat itu) pejabat pemerintah kolonial secara rutin berkeliling dengan mobil untuk bersosialisasi (meningkatkan kesadaran tentang) kematian penyakit tersebut ( Flu Spanyol), (dan memberi tahu orang-orang) bahwa lebih baik tinggal di rumah, memakai topeng, dan menjaga kebersihan. "

Irsyam mengatakan langkah-langkah ini diambil oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda karena tidak semua orang pada waktu itu dapat membaca koran dan mendapatkan informasi yang akurat.

Pemerintah kolonial menggunakan metode sosialisasi langsung untuk memastikan masyarakat tidak meremehkan penyakit ini dan tetap waspada dengan penyebaran flu Spanyol.

Namun, pemerintah kolonial dan orang-orang memiliki pandangan berbeda tentang asal-usul flu Spanyol, katanya.

"Masyarakat melihat penyakit itu berasal dari alam, seperti debu, angin, dan lain-lain. Sementara pemerintah kolonial melihat sumber penularannya dari luar - migran yang datang dan menjadi pembawa virus," urai Irsyam. Agen Domino

Dia lebih lanjut mengatakan bahwa pada hari-hari awal flu Spanyol, hampir tidak ada yang siap - baik pemerintah maupun masyarakat yang tinggal di negara-negara di seluruh dunia. Ketidaksiapan ini terlihat dari lambatnya penanganan wabah, katanya.

Pada awal wabah, ketika beberapa orang mulai menunjukkan beberapa gejala, pejabat di sejumlah negara tampaknya mengabaikan fenomena tersebut, kata Irsyam.

Pemerintah kolonial Hindia Belanda juga merespons dengan cara yang sama. Ketika laporan beberapa orang yang menjadi korban flu, termasuk di Bali dan Banyuwangi, dicapai melalui telegram, mereka berbaring di sebuah lembaga yang secara administratif setara dengan sekretariat negara selama berbulan-bulan, tambahnya.

"Karena tidak ada tanggapan, pemerintah kolonial di daerah itu akhirnya panik dan menyerahkannya kepada rakyat untuk bertindak sendiri," jelasnya.

Masyarakat akhirnya lebih menekankan pada penggunaan obat tradisional. Serat Centini menyebutkan beberapa bahan alami, seperti herbal, yang sering digunakan dalam perawatan tradisional. Corona

No comments