Breaking News

Saat Indonesia Menghadapi Krisis Ganda, Seruan Bergema untuk Menjaga Persatuan

Peringatan 75 tahun Hari Kemerdekaan Indonesia dirayakan di seluruh negeri pada hari Senin, bahkan ketika negara sedang berjuang untuk mengatasi krisis kesehatan masyarakat dan ekonomi yang timbul dari pandemi COVID-19. Agen Poker

Pandemi tersebut telah sangat mempengaruhi perekonomian Indonesia sebagaimana tercermin dari PDB (Produk Domestik Bruto) yang dilaporkan mengalami kontraksi 5,32 persen pada kuartal kedua tahun ini.

Di saat yang sama, virus mematikan, yang awalnya melanda kota Wuhan di China pada akhir 2019 dan sejak itu menyebar ke seluruh dunia, juga telah menginfeksi banyak orang Indonesia selama enam bulan terakhir.

Hingga Senin (17 Agustus 2020), otoritas kesehatan Indonesia mengungkapkan, kasus COVID-19 yang dikonfirmasi di Indonesia mencapai 141.370, dengan 94.458 pasien sembuh total dan 6.207 lainnya meninggal karena virus.

Dipicu oleh ancaman terus menerus yang ditimbulkan oleh COVID-19 di negara tersebut, sekitar 135 petugas medis dan pejabat di Rumah Sakit Islam Siti Hajar di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, mengenakan jas hazmat, masker wajah, dan pelindung wajah saat upacara pengibaran bendera untuk memperingati Hari Jadi ke-75 Indonesia.

Pemakaian jas hazmat merah-putih selama acara peringatan bertujuan untuk memproyeksikan pesan kepada masyarakat luas agar tetap sadar akan pentingnya mengikuti langkah-langkah pencegahan yang diamanatkan dalam protokol kesehatan pemerintah. Agen Domino

"Kami ingin menyampaikan pesan kehati-hatian terhadap pandemi COVID-19. Kami menghimbau seluruh anggota masyarakat untuk terus melakukan tindakan preventif, seperti memakai masker, menjaga jarak fisik, dan cuci tangan," direktur rumah sakit, Hidayatullah , dinyatakan.

Partisipasi masyarakat dalam memutus rantai penyakit novel coronavirus akan berkontribusi pada keberhasilan pemerintah dalam memerangi virus.

Untuk memenuhi kebutuhan finansial dalam merespon COVID-19 negara dan pemulihan ekonomi, pemerintah telah menerbitkan empat obligasi pemerintah kepada Bank Indonesia dengan nilai transaksi Rp82,1 triliun.

Transaksi tersebut dilakukan dengan skema pembagian beban yang baru-baru ini disetujui oleh pemerintah dan BI, kata Direktur Jenderal Manajemen Risiko dan Pembiayaan Kementerian Keuangan Indonesia, Luky Alfirman, dalam sebuah pernyataan baru-baru ini.

Pemerintah tidak dapat menangani krisis kesehatan dan ekonomi masyarakat tanpa dukungan yang kuat dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.

Presiden keenam Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), telah menyatakan keyakinannya atas kemampuan bangsa untuk menyelesaikan dan mengatasi krisis kembar selama negara itu bersatu.

“Negara kita saat ini sedang menghadapi krisis ganda. Makanya kita harus tetap bersatu, ”kata Yudhoyono dalam video yang diedarkan Sekretariat Presiden RI memperingati 75 tahun HUT RI di Jakarta.

Yudhoyono, yang memimpin Indonesia selama satu dekade, menekankan pada pelestarian persatuan sebagai aspek terpenting bagi bangsa di tengah situasi pandemi global.

Untuk itu, pemerintah harus memimpin dan membantu rakyat, sedangkan masyarakat di pihaknya harus mendukung penuh pemerintah dan memenuhi kewajibannya, katanya.

Dengan pertolongan Tuhan dan kerja keras seluruh bangsa, Indonesia akan berada dalam posisi untuk melewati masa sulit ini, tambahnya.

Indonesia adalah negara dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Itu juga merupakan anggota G-20 bersama dengan Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Cina, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris Raya, Amerika Serikat, dan Uni Eropa.

Bangsa dan negara wajib mengemban tugas membangun Indonesia yang maju, damai, sejahtera, dan adil, tegas SBY.

“Cita-cita luhur kita menjadi negara yang kuat dan maju di abad ini bukan hanya sekedar mimpi kosong,” tandasnya sembari mengimbau seluruh bangsa untuk senantiasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan para pendiri bangsa dan pemimpin bangsa dari berbagai era.

Dalam pidatonya di sidang tahunan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan sidang gabungan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) dan Dewan Perwakilan Daerah (DPD) di Jakarta pada 14 Agustus 2020, Presiden Joko Widodo juga menyoroti pentingnya membongkar krisis kembar tersebut. .

Presiden Jokowi menegaskan kembali pentingnya penanganan masalah fundamental Indonesia dan membuat lompatan besar untuk mencatat kemajuan signifikan di tengah dampak dan implikasi luas dari pandemi COVID-19 yang sedang berlangsung.

“Tujuan kami saat ini tidak hanya sebatas mengatasi pandemi dan melewati krisis, tetapi kami juga mengambil langkah-langkah untuk melakukan lompatan besar dengan memanfaatkan momentum krisis yang sedang berlangsung,” tegas Presiden Jokowi.

Kepala Negara menyampaikan keyakinannya bahwa krisis telah melahirkan momentum bagi Indonesia untuk mengejar ketertinggalan dan terus maju melakukan transformasi besar-besaran dengan menerapkan grand strategy.

“Kita harus memanfaatkan krisis ini sebaik-baiknya. Kita harus memanfaatkan momentum ini secara bersamaan dan bersamaan. Kita harus bekerja untuk menjadikan Indonesia sejajar dengan negara lain. Kita harus bercita-cita menjadikan negara kita Indonesia Maju,” tandasnya.

No comments